Senin, 07 Mei 2012

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

           “Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya… 

Dan  motivasi  hebat  buat  para  istri  (dan  calon  istri)  untuk  tetap  mencintai  suaminya… 

 

           Kehidupan  pernikahan  kami  awalnya  baik2  saja  menurutku.  Meskipun  menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi 
ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak 
kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. 


           Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, 
itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, 
memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. 

           Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan 
berdua diluar pun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik 
sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang 
beradu dengan sendok garpu. 

           Kalau  hari  libur,  dia  lebih  sering  hanya  tiduran  di  kamar,  atau  main  dengan  anak2 
kami,  dia  jarang  sekali  tertawa  lepas.  Karena  dia  sangat  pendiam,  aku  menyangka  dia 
memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun 
pernikahan  kami.  Sampai  suatu  ketika,  di  suatu  hari  yang  terik,  saat  itu  suamiku  tergolek 
sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di 
rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. 
Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan 
diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. 

           Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata 
yang  begitu  cantik  seperti  yang  dia  milii.  Matanya  bersinar  indah,  penuh  kehangatan  dan 
penuh  cinta,  ketika  dia  berbicara,  seakan2  waktu  berhenti  berputaran  terpana  dengan 
kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan 
mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. 

           Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha 
bercerita  Mario  sangat  pendiam,  sehingga  jarang  punya  teman  yang  akrab.  5  bulan  lalu 
mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha 
yang  bekerja  di  advertising  akhirnya  bertemu  dengan  Mario  yang  sedang  membuat  iklan 
untuk perusahaan tempatnya bekerja. 

           Aku mulai mengingat 2-5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, 
setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih 
dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, 
dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku 
tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.  Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku 
sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga 
mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, 

         “Hai  Rima,  kenapa  dengan  anak  sulungmu  yang  nomor  satu  ini?  tidak  mau  makan 
juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengaj ak Mario bercerita sambil 
menyuapi  Mario,  tiba2  saja  sepiring  nasi  itu  sudah  habis  ditangannya.  Dan….aku  tidak 
pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata  suamiku, seperti siang itu, tidak 
pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun! 

         Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi 
aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah 
operasi  caesar  ketika  aku  melahirkan  anaknya.  Lebih  sakit  dari  rasa  sakit,  ketika  dia  tidak 
mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika 
dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa 
sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. 

         Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, 
dia  bisa  hadir  tiba2,  membawakan  donat  buat  anak2,  dan  membawakan  ekrol  kesukaanku. 
Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan 
ke-2 anaknya yang lucu2. 

         Aku  tidak  pernah  bertanya,  apakah  suamiku  mencintai  perempuan  berhati  bidadari 
itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya. 

          Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatiku 
pun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. 

         Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting 
ikal  dan  cerdasnya  sama  seperti  ayahnya.  Dia  berhasil  membuka  password  email  Papanya, 
dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?” 

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu, 

Dear Meisha, 

         Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku 
tidak  pernah  merasakan  jatuh  cinta  seperti  ini,  bahkan  pada  Rima.  Aku  mencintai  Rima 
karena   kondisi   yang   mengharuskan   aku   mencintainya,   karena   dia   ibu   dari   anak2ku. 
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada 
perasaan  bergetar  seperti  ketika  aku  memandangmu,  tidak  ada  perasaan  r indu  yang  tidak 
pernah     padam      ketika   aku    tidak   menjumpainya.        Aku    hanya     tidak   ingin    menyakiti 
perasaannya.  

         Ketika  konflik2  terjadi  saat  kami  pacaran  dulu,  aku  sebenarnya  kecewa,  tapi  aku 
tidak  sanggup  mengatakan  padanya  bahwa  dia  bukanlah  perempuan  yang  aku  cari  untuk 
mengisi   kekosongan   hatiku.   Hatiku   tetap   terasa   hampa,   meskipun   aku   menikahinya. 
Aku  tidak  tahu,  bagaimana  caranya  menumbuhkan  cinta  untuknya,  seperti  ketika  cinta 
untukmu  tumbuh  secara  alami,  seperti  pohon2  beringin  yang  tumbuh  kokoh  tanpa  pernahmendapat  siraman  dari  pemiliknya.  Seperti  pepohonan  di  hutan2  belantara  yang  tidak 
pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. 

           Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain 
dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun  hatiku 
 terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia  dan tertawa, dia 
bisa  mendapatkan  segala  yang  dia  inginkan  selama  aku  mampu.  Dia  boleh  mendapatkan 
seluruh  hartaku  dan  tubuhku,  tapi  tidak  jiwaku  dan  cintaku,  yang  hanya  aku  berikan 
untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau 
mengerti, you are the only one in my heart. 

yours, 
Mario 

           Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 
tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. 

           Suamiku   tidak   pernah   mencintaiku.   Dia   tidak   pernah   bahagia   bersamaku.   Dia 
mencintai  perempuan  lain.  Aku  mengumpulkan  kekuatanku.  Sejak  itu,  aku  menulis  surat 
hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari 
bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.  

           Mobil  yang  dia  berikan  untukku  aku  kembalikan  padanya.  Aku  mengumpulkan 
tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar 
 dan  menjemput  anak2ku.  Mario  merasa  heran,  karena  aku  tidak  pernah  lagi  bermanja  dan 
minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu 
memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, se                                      angkan teman2ku sudah 
menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. 

           Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan 
yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, 
bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih  aku hargai daripada 
 dia  cuma  diam  dan  mengangguk  dan  melamarku  lalu  menikahiku.  Betapa  malangnya 
nasibku. 

           Mario  terus  menerus  sakit2an,  dan  aku  tetap  merawatnya  dengan  setia.  Biarlah  dia 
mencintai  perempuan  itu  terus  di  dalam  hatinya.  Dengan  pura2  tidak  tahu,  aku  sudah 
membuatnya            bahagia       dengan       mencintai        perempuan          itu.   Kebahagiaan           Mario       adalah 
kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya. 

                                                           ********** 

                                                                     

 Setahun kemudian… 

           Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu 
masih basah merah dan masih dipenuhi bunga. 

           “Mario,  suamiku….Aku  tidak  pernah  menyangka  pertemuan  kita  saat  aku  pertama 
kali  bekerja  di  kantormu,  akan  membawaku  pada  cinta  sejatiku.  Aku  begitu  terpesona 
padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika  aku tidak bertepuk  sebelah  tangan.  Aku  mencintaimu,  dan  begitu  posesif  ingin  memilikimu  seutuhnya.  Aku 
sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas 
angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik 
yang  diinginkan  banyak  pria,  telah  memenuhi  ruang  hatimu  dan  kamu  terlalu  mencintaiku 
sehingga mau melakukan apa saja untukku….. 

         Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika 
aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya 
menyukai Mario. 

         Aku  melihat  matamu  begitu  terluka,  ketika  berkata,  “kenapa,  Rima?  Kenapa  kamu 
mesti    cemburu?     dia   sudah    menikah,     dan   aku    sudah    memilihmu       menjadi    istriku?” 
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. 

         Sekarang   aku   menyesal,   memintamu   melamarku.   Engkau   tidak   pernah   bahagia 
bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita  yang 
sempurna yang engkau inginkan. 

         Istrimu, Rima” 

Di surat yang lain, 

         “………Kehadiran  perempuan  itu  membuatmu  berubah,  engkau  tidak  lagi  sedingin 
es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari 
matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola 
matamu saat memandang Meisha……” 

Disurat yang kesekian, 

         “…….Aku           bersumpah,         akan       membuatmu           jatuh       cinta      padaku. 
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi 
suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan 
masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka 
bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku 
selalu  meneleponmu,  untuk  menanyakan  sudahkah  kekasih  hatiku  makan  siang  ini?  Aku 
merawatmu  jika  engkau  sakit,  aku  tidak  kesal  saat  engkau  tidak  mau  aku  suapi,  aku 
menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, 
karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah……. 

         Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan 
menantinya……..” 

         Meisha  menghapus  air  mata   yang  terus  mengalir  dari  kedua  mata  indahnya… 
dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya. 

Disurat terakhir, pagi ini… 

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau 
tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan 
masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude  Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku 
hanya mengendarai motor. 

         Saat  aku  tiba  di  rumah  kemarin  malam,  aku  melihat  sinar  kekhawatiran  dimatamu. 
Engkau      memelukku,        dan    menyuruhku        segera     ganti    baju    supaya     tidak    sakit. 
Tahukah engkau suamiku, 

         Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun 
kita  menikah,  baru  kali  ini  aku  melihat  sinar  kekhawatiran  itu  dari  matamu,  inikah  tanda2 
cinta mulai bersemi dihatimu ?………” 

Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari 
jauh   aku   melihat   keceriaan   diwajah   mama,   dia   terus   melambai-lambaikan   tangannya 
kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, 
dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2  kepadaku, tapi aku selalu  menyayanginya. 
Mama memarkir motornya di seberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil 
itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, 
Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”.  

         Jelita  memeluk  Meisha  dan  terisak-isak.  Bocah  cantik  ini  masih  terlalu  kecil  untuk 
merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. 

         Meisha mengeluarkan selembar kertas  yang dia  print tadi pagi. Mario mengirimkan 
email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya. 

Dear Meisha, 

         Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan 
selalu  berusaha  menyenangkan  hatiku.  Dan  tadi,  dia  pulang  dengan  tubuh  basah  kuyup 
karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa 
beruntungnya   aku   memiliki   dia.   Hatiku   mulai   bergetar….   Inikah   tanda2   aku   mulai 
mencintainya? 

         Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok 
aku  akan  memberikan  surprise  untuknya,  aku  akan  membelikan  mobil  mungil  untuknya, 
supaya  dia  tidak  lagi  naik  motor  kemana-mana.  Bukan  karena  dia  ibu  dari  anak2ku,  tapi 
karena dia belahan jiwaku…. 

         Meisha   menatap   Mario   yang   tampak   semakin   ringkih,            yang   masih   terduduk 
disamping  nisan  Rima.  Di  wajahnya  tampak  duka  yang  dalam.  Semuanya  telah  terjadi, 
Mario…… 
Kadang  kita  baru  menyadari  mencintai  seseorang,  ketika  seseorang  itu  telah  pergi 
meninggalkan kita.……………………………………… 

1 komentar:

sirojatulmuniroh mengatakan...

ustd ni sirojatul muniroh kls 6a.


bisa di petik hikmah dari kisah di atas.