Minggu, 26 Juni 2011

Taklid ( Bagian I )

Fenomena kemalasan masyarakat umum untuk membaca, menelaah, dan mendiskusikan berbagai permasalahan aktual atau mengenai dalil-dalil yang valid, seringkali kita jumpai. Seseorang lebih memilih bertanya kepada orang lain yang dianggap cukup ilmunya dengan menerima begitu saja dan merasa cukup dengan jawaban yang diberikan. Atau ketika terjadi pro-kontra dalam suatu persoalan, panduan dan pegangannya adalah persepsi dan interpretasi dari seseorang dan menepis persepsi lain yang bersebrangan. Sikap seperti ini disebut Taklid.



Sikap Taklid terkadang tidak disadari dan dimengerti oleh orang yang mengerjakannya karena berbatasan dengan Ittiba. Ittiba adalah sikap mengikuti apa yang datang dari Nabi Muhammad saw dan para sahabat (Ahmad). Dapat dikatakan pula sebagai apa yang ditetapkan berdasarkan argumentasi yang valid.

Sedangkan Taklid menurut syariat adalah kembali kepada pendapat yang tidak argumentatif bagi yang mengucapkannya kepadanya (Abu Abdullah bin Khawwaar Mindad Al Bashari Al Maliki).

Imam Ibn Qayyim memaknakan taklid sebagai tindak menirukan sesuatu yang bersifat mengagungkan pembawa sesuatu itu sendiri.



Sampai saat ini taklid masih menjadi masalah yang kontroversial di kalangan para ulama. Segolongan orang bertaklid dengan berlandaskan pada firman Allah SWT :
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An Nahl: 43)

Sedangkan segolongan dari para ulama fiqih dan ahli-ahli teoritis menyanggah pendapat-pendapat orang yang memperbolehkan taklid. Bahkan empat imam madzhab yang ditaklidkan melarang untuk bertaklid kepada mereka dan mengecam orang yang mengambil pendapat-pendapat dan persepsi-persepsi mereka tanpa argumen yang valid.

Imam Syafi'I berkata :
"Perumpamaan orang yang mencari ilmu dengan hujjah, seperti pencari kayu bakar pada malam hari, ia membawa seikat kayu bakar dan di dalamnya terdapat seekor ular yang mematuknya, namun ia tidak mengetahuinya".

Imam Abu Hanifah berkata :
"Tidak halal bagi seseorang yang berkata menurut ucapan kami, terkecuali ia mengetahui sumber persepsi kami".
Imam Ahmad berkata :
"Janganlah kamu bertaklid kepada seseorang dalam agamamu ".

Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Disadur dari buku "Risalah At-Taqlid"

3 komentar:

Anonim mengatakan...

ya pasti kalo taqlid ke rasulullah pasti boleh

Anonim mengatakan...

itu pasti

Anonim mengatakan...

lumayan buat share