Senin, 07 Mei 2012

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

           “Pesan” dahsyat buat para suami (dan calon suami) untuk menjaga istrinya… 

Dan  motivasi  hebat  buat  para  istri  (dan  calon  istri)  untuk  tetap  mencintai  suaminya… 

 

           Kehidupan  pernikahan  kami  awalnya  baik2  saja  menurutku.  Meskipun  menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi 
ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian mengantar anak 
kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. 

Foto 4 x 6 di Saku Bajumu Nak…

           Seperti hari-hari kemarin,Tetap saja ada perasaan sedih yang menghantui relung hati Hamzah. Ayah berumur 29 tahun itu terlihat sering murung. Sedihnya Hamzah, bukan karena 
persoalan besar, bukan juga permasalahan ekonomi keluarga. Namun, kesedihannya karena satu   pertanyaan   yang   dilontarkan   pemateri   ketika   mengikuti   acara   Smart   Parenting. 
”Bagaimana  caranya  untuk  mengetahui  kalo  anak  berumur  1-5  tahun  menyayangi  orang tuannya” ? Ya, pertanyaan itulah yang manjadi beban pikiran dirinya saat ini. Meskipun juga 
Hamzah  mengakui  kalo  dirinya  bukanlah  ayah  yang  baik.  Marah  adalah  hal  yang  wajar terjadi.  Namun,  marah  ketika  terlihat  oleh  anak  berusia  2  tahun  adalah  perkara  yang berbahaya untuk perkembangan emosionalnya. Dan Hamzah mengakui hal itu. Mulai hari itu ia bertekad untuk menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anaknya. 

Selasa, 17 April 2012

Kisah Sebuah Pernikahan

 “Sedikit Renungan cerita buat kita yang banyak hikmahnya jika kita mau mengkajinya”

         Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku
menjadi  makhluk  yang  paling  berbahagia.  Tapi  yang  aku  rasakan  justru  rasa  haru  biru.
Betapa  tidak.  Di  hari  bersejarah  ini  tak  ada  satu  pun  sanak  saudara  yang  menemaniku  ke
tempat     mempelai       wanita.     Apalagi      ibu.   Beliau     yang     paling     keras    menentang
perkawinanku.Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari,

         “Jadi juga kau n