Selasa, 17 April 2012

Kisah Sebuah Pernikahan

 “Sedikit Renungan cerita buat kita yang banyak hikmahnya jika kita mau mengkajinya”

         Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku
menjadi  makhluk  yang  paling  berbahagia.  Tapi  yang  aku  rasakan  justru  rasa  haru  biru.
Betapa  tidak.  Di  hari  bersejarah  ini  tak  ada  satu  pun  sanak  saudara  yang  menemaniku  ke
tempat     mempelai       wanita.     Apalagi      ibu.   Beliau     yang     paling     keras    menentang
perkawinanku.Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari,

         “Jadi juga kau n
ikah sama buntelan karung hitam’ itu ….?!?” Duh……, hatiku sempat
kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut ‘buntelan karung hitam’.

         “Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut
dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi
dibanding kamu !!” sambung ibu lagi.

         “Cukup  Bu!  Cukup!  Tak  usah  ibu  menghina  sekasar  itu.  Dia  kan  ciptaan  Allah.
Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu…?” Kali ini  aku terpaksa menimpali ucapan
ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

         “Oh….  rupanya  kau  lebih  memillih  perempuan  itu  ketimbang  keluargamu.  baiklah
Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di
tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!”

DEGG !!!!

         “Yanto….   jangan   bengong   terus.   Sebentar   lagi   penghulu   tiba,”   teguran   Ismail
membuyarkan lamunanku.

Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

         “Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah …akhi,” sekali lagi Ismail memberi
semangat padaku.

         “Aku  terima  nikahnya,  kawinnya  Shalihah  binti  Mahmud  almarhum  dengan  mas
kawin  seperangkat  alat  sholat  tunai  !”  Alhamdulillah  lancar  juga  aku  mengucapkan  aqad
nikah.

         “Ya   Allah     hari   ini  telah   Engkau     izinkan    aku   untuk    meraih     setengah    dien.
Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain.”

         Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.Memandangi
istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian  lama kami saling diam,
akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

         “Assalamu’alaikum  ….  permintaan  hafalan  Qur’annya  mau  di  cek  kapan  De’…?”
tanyaku  sambil  memandangi  wajahnya  yang  sejak  tadi  disembunyikan  dalam  tunduknya.  Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar 
aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. 
“Nanti  saja  dalam  qiyamullail,”  jawab  istriku,  masih  dalam  tunduknya.  Wajahnya  yang 
berbalut  kerudung  putih,  ia  sembunyikan  dalam-dalam.  Saat  kuangkat  dagunya,  ia  seperti 
ingin  menolak.  Namun  ketika  aku  beri  isyarat  bahwa  aku  suaminya  dan  berhak  untuk 
melakukan itu , ia menyerah. 

         Kini  aku  tertegun  lama.  Benar  kata  ibu  ..bahwa  wajah  istriku  ‘tidak  menarik’. 
Sekelebat pikiran itu muncul ….dan segera aku mengusirnya. 

Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku. 

         “Bang,  sudah  saya  katakan  sejak  awal  ta’aruf,  bahwa  fisik  saya  seperti  ini.  Kalau 
Abang  kecewa,  saya  siap  dan  ikhlas.  Namun  bila  Abang  tidak  menyesal  beristrikan  saya, 
mudah-mudahan         Allah    memberikan      keberkahan      yang    banyak    untuk    Abang.     Seperti 
keberkahan  yang  Allah  limpahkan  kepada  Ayahnya  Imam  malik  yang  ikhlas  menerima 
sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah 
yang  dibacakan  ibunya   Imam  Malik  pada  suaminya  pada  malam  pertama  pernikahan 
mereka,” … 

Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu 
tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai 
sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS An-Nisa:19) 

         Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-
lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. 
Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi 
dalam sejarah. 

“Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih 
sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya 
dengan segenap hati yang ikhlas.” 

         Pelan  kudekati  istriku.  Lalu  dengan  bergetar,  kurengkuh  tubuhya  dalam  dekapku. 
Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu. 

         “Jangan  memaksakan  diri  untuk  ikhlas  menerima  saya,  Bang.  Sungguh…  saya  siap 
menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi. 

         “Tidak…De’.  Sungguh  sejak  awal  niat  Abang  menikahimu  karena  Allah.  Sudah 
teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot 
untuk tak datang tadi pagi,” paparku sambil menggenggam erat tangannya. 

         Malam  telah  naik  ke  puncaknya  pelan-pelan.  Dalam  lengangnya  bait-bait  do’a 
kubentangkan pada Nya. 

“Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta 
buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku 
ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa 
cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku 
dengan-Mu dalam Jannah-Mu !” 

            Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah 
istriku  denan  segenap  hati  yang  ikhlas.  Ah,  ..  sekarang  aku  benar-benar  mencintainya. 
Kenapa  tidak?  Bukankah  ia  wanita  sholihah  sejati.  Ia  senantiasa  menegakkan  malam-
malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. 

            Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah 
Rasul Nya. 

            “…dan          diantara         manusia          ada      orang-orang             yang       menyembah              tandingan-
tandingan  selain  Allah.  Mereka  mencintainya  sebagaimana  mereka  mencintai  Allah. 
Adapun  orang-orang  yang  beriman  amat  sangat  cintanya  pada  Allah  …”  (QS.  al-
Baqarah:165) 

========================================= 

Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku  ini hina maka 
muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih 

Tidak ada komentar: