Selasa, 17 April 2012

Dulu Haram Kini Halal

Pada suatu ketika di zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang pencuri yang hendak
bertaubat,  dia  duduk  di  majelis  Nabi  Muhammad  SAW  dimana  para  sahabat  berdesak-
desakkan di Masjib Nabawi.

          Suatu  ketika  dia  menangkap  perkataan  Nabi  saw  :  “Barangsiapa  meninggalkan
sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu
dalam keadaan halal”. Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para sahabat
mendiskusikan  hal  tersebut  setelah  majelis  dengan  tingkat  keimanan  dan  pemahaman  yang
jauh dibawah sang pencuri merasa tersisihkan.

         Akhirnya  malam  pun  semakin  larut,  sang  pencuri  lapar.  Keluarlah  dia  dari  Masjid
demi melupakan rasa laparnya.

         Di  suatu  gang  tempat  dia  berjalan,  dia  mendapati  suatu  rumah  yang  pintunya  agak
terbuka. Dengan insting pencurinya yang tajam ia dapat melihat dalam gelap bahwa pintu itu
tidak terkunci…dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. Tidak, ia
merasa tidak boleh mencuri lagi.

         Namun tiba-tiba timbul bisikan aneh : “Jika kamu tidak mencuri mungkin akan ada
pencuri lainnya  yang belum tentu seperti kamu”. Menjadi berfikirlah dia, maka diputuskan
dia   hendak   memberitahukan/mengingatkan   pemiliknya   di   dalam   agar   mengunci   pintu
rumahnya, karena sudah lewat tengah malam.

         Dia  hendak  memberi  salam  namun  timbul  kembali  suara  tadi  :  “Hei  pemuda!
bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini ternyata adalah pencuri itu yang
membuka,  bila  engkau  mengucap  salam  …  akan  kagetlah  dia  dan  bersembunyi,  alangkah
baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap basahnya !” 
         
         Ah.. benar juga, pikirnya.
 
         Maka   masuklah   ia   dengan   tanpa   suara…   Ruangan   rumah   tersebut   agak   luas,
dilihatnya  berkeliling  ada  satu  meja  yang  penuh  makanan  –  timbul  keinginannya  untuk
mencuri lagi, namun segera ia sadar – tidak, ia tidak boleh mencuri lagi. 

         Masuklah ia dengan hati-hati, hehhh …syukurlah tidak ada pencuri berarti  memang
sang pemilik  yang lalai  mengunci pintu. Sekarang tinggal memberitahukan kepada pemilik
rumah   tentang      kelalaiannya,      tiba-tiba   terdengar     suara    men   engkur     halus    dari   sudut
ruang….Ahh ternyata ada yang tidur mungkin sang pemilik dan sepertinya perempuan cantik.
Tanpa  dia  sadari  kakinya  melangkah  mendekati  tempat  tidur,  perasaannya  berkecamuk,
macam-macam  yang  ada  dalam  hatinya.  Kecantikan,  tidak  lengkapnya  busana  tidur  yang
menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor dalam dirinya.

         Begitu   besarnya   hingga   keluar   keringat   dinginnya,   seakan   jelas   ia   mendengar
jantungnya  berdetak  kencang  didadanya,  serta  tak  dia  sangka  ia  sudah  duduk  mematung
disamping tempat tidur…Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertaubat dan tidak
mau menambah dosa yang ada, tidakk !!      Segera  ia  memutar  badannya  untuk  pergi.  Akan  ia  ketuk  dan  beri  salam  dari  luar 
sebagaimana  tadi.  Ketika  akan  menuju  pintu  keluar  ia  melalui  meja  makan  tadi,  tiba-tiba 
terdengar bunyi dalam perutnya…ia lapar. Timbullah suara aneh tadi : “Bagus hei pemuda 
yang   baik,   bagaimana   ringankah   sekarang   perasaanmu   setelah   melawan   hawa   nafsu 
birahimu?” 

         Eh-eh, ya. Alhamdulillah ada rasa bangga dalam hati ini dapat berbuat kebaikan dan 
niat perbuatan pemberitahuan ini akan sangat terpuji. Pikir sang pemuda. Suara itu berkata: 
“Maka  sudah  sepatutnya  engkau  memperoleh  ganjaran  dari  sang  pemilik  rumah  atas  niat 
baikmu itu, ambillah sedikit makanan untuk mengganjal perutmu agar tidak timbul perasaan 
dan keinginan mencuri lagi!!” 

         Berpikirlah  dia  merenung  sebentar,  patutkah  ia  berbuat  begitu?  “Hei  –  tiba2x  ia 
tersadar  serta  berucap  dalam  hati  –  engkau  dari  tadi  yang  berbicara  dan  memberi  nasihat 
kepadaku? Tapi nasihatmu itu telah menjadikan aku menjadi tamu tidak diundang seperti ini, 
tidak..  aku  tidak  akan  mendengarkan  nasihatmu.  Bila  engkau  Tuhan,  tidak  akan  memberi 
nasihat seperti ini. Pasti engkau Syaithon….(hening). 

         Celaka  aku,  bila  ada  orang  yang  di  luar  dan  melihat  perbuatanku  ….  aku  harus 
keluar.”  Maka  tergesa-gesa  ia  keluar  rumah  wanita  tersebut,  ketika  tiba dihadapan  pintu  ia 
mengetuk        keras     dan      mengucap        salam      yang      terdengar      serak      menakutkan. 
Semakin khawatir ia akan suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya 
mendengar atau tidak ia kembali menuju masjid dengan perasaan galau namun lega, karena 
tidak ada orang yang memergoki dia melakukan apa yang disarankan suara aneh tadi. 

         Sesampai  dimasjid,  ia  melihat  Nabi  saw  sedang  berdiri  sholat.  Di  sudut  ruang  ada 
seorang  yang  membaca  al  qur-aan  dengan  khusyu’  sambil  meneteskan  air  mata,  di  sudut-
sudut terdapat para shahabat dan kaum shuffah tidur. Dingin sekali malam ini, lapar sekali 
perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru dia alami, bersyukur ia atas pertolongan 
Allah yang menguatkan hatinya. 

         Tapi … tidak di dengar bisikan Allah di hatinya, apakah Allah marah kepadaku? Lalu 
ia menghampiri sudut ruang masjid duduk dekat pintu, dekat orang  yang membaca al qur-
aan. Ditengah melamunnya ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci …… 

         Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat 
Allah,     lalu     berkatalah      orang-orang        yang      lemah      kepada       orang-orang       yang 
sombong:”Sesungguhnya  kami  dahulu  adalah  pengikut-pengikutmu,  maka  dapatkah  kamu 
menghindarkan         dari    pada     kami      azab    Allah      (walaupun)       sedikit    saja    Mereka 
menjawab:”Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi 
petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali 
kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS. 14:21) 

         Dan  berkatalah  syaitan  tatkala  perkara  (hisab)  telah  diselesaikan:  “Sesungguhnya 
Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu 
tetapi   aku   menyalahinya.   Sekali-kali   tidak   kekuasaan   bagiku   terhadapmu,   melainkan 
(sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu 
mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu 
dan  kamu  pun  sekali-kali  tidak  dapat  menolongku.  Sesungguhnya  aku  tidak  membenarkan 
perbuatanmu  mempersekutukan  aku  (dengan  Allah)  sejak  dahulu”.  Sesungguhnya  orang-
orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14:22) 

         Bergetarlah  hatinya  mendengar  perkataan  Allah  yang  di  dengarnya,  berkatalah  ia 
“Engkau  berbicara  kepadakukah,  ya  Allah?”  Serasa  lapang  hatinya,  semakin  asyik  dia 
mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah ia akan laparnya, segar rasanya badannya. 

         Cukup  lama  ia  mendengarkan  bacaan  orang  itu  hingga  tiba-tiba  tersentak  ia  karena 
bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula bahwa 
pria  itu  menjawab  salam  seseorang  wanita  dan  seorang  tua  yang  masuk  langsung  menuju 
tempat  Nabi  Muhammad  SAW  sedang  duduk  berdzikir,  dan  wajah  wanita  itu  …  adalah 
wajah wanita tadi !!!??? Timbul gelisah hatinya, apakah tadi ketika ia berada di ruangan itu 
sang  wanita  pura-pura  tidur  dan  melihat  wajahnya?  Ataukah  ada  orang  yang  diam-diam 
melihatnya,     mungkin      laki-laki   tua   yang   bersamanya       adalah    orang    yang   diam-diam 
memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumah itu? Ahh … celaka, celaka. 

         Namun  gemetar  tubuhnya,  tidak  mampu  ia  menggerakkan  anggota  tubuhnya  untuk 
bersembunyi atau pergi apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca al Qur-aan hendak 
tidur dan tak lama pun mendengkur. Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi saw…. 
celaka, pikirnya panik !! 

         Hampir  celentang  jatuh  ia  ketika  terdengar  suara  Nabi  Muhammad  SAW.  :  “Hai 
Fulan,   kemarilah   !”   Dengan   perlahan   dan   perasaan   takut   ia   mendekat.   Ia   berusaha 
menyembunyikan wajahnya. 

         Ia  mendengar  sang  perempuan  masih  berbicara  kepada  Nabi  Muhammad  SAW. 
katanya : “…benar ya Rosulullah, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya 
kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, 
ketika saya berontak … ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya 
ternyata  pintu  rumah  saya  terbuka  sebagaimana  mimpi  saya  dan  ada  suara  menyeramkan 
yang  membuat  saya  takut.  Maka  segera  saya  menuju  rumah  paman  saya  untuk  meminta 
dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang di mimpi saya tidak terjadi bila saya ada suami 
yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau disini agar memilihkan 
calon suami untuk saya”. 

         Nabi  saw  memandang  kepada  si  pemuda  bekas  pencuri,  lalu  berkata  :  “Hai  Fulan, 
karena  tidak  ada  pria  yang  bangun  kecuali  engkau  saat  ini  maka  aku  tawarkan  padamu, 
maukah engkau menjadi suaminya?” Terkejut ia mendengar itu, cepat mengangguklah ia. 

         Dan  setelah  sholat  shubuh  Nabi  saw  mengumumkan  hal  ini  dan  meminta  para 
shahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin si 
pemuda ini. 

         Setelah  pernikahannya,  tahulah  ia  akan  arti  perkataan  Nabi  Muhammad  yang  lalu  : 
“Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia 
akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal”. 

Tidak ada komentar: