Selasa, 17 April 2012

Kekuatan Maaf Rasulullah SAW

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke
Madinah  dengan  tujuan  hendak  membunuh  Nabi  Shalallahu  alaihi   wa  sallam.  Segala
persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia  pun sudah masuk ke kota
suci   tempat   Rasulullah   tinggal   itu.   Dengan   semangat   meluap-luap   ia   mencari   majlis
Rasulullah,     langsung     didatanginya      untuk    melaksanakan       maksud      tujuannya.    Tatkala
Tsumamah  datang,  Umar  bin  Khattab  ra.  yang  melihat  gelagat  buruk  pada  penampilannya
menghadang.

         Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang
musyrik?” 

         Dengan  terang-terangan  Tsumamah  menjawab,  “Aku  datang  ke  negeri  ini  hanya
untuk membunuh Muhammad!”.

         Mendengar  ucapannya,  dengan  sigap  Umar  langsung  memberangusnya.  Tsumamah
tak  sanggup  melawan  Umar  yang  perkasa,  ia  tak  mampu  mengadakan  perlawanan.  Umar
berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian  dibawa ke masjid. Setelah
mengikat Tsumamah di  salah satu tiang masjid  Umar segera melaporkan kejadian ini pada
Rasulullah.

         Rasulullah   segera   keluar   menemui   orang   yang   bermaksud   membunuhnya   itu.
Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian
berkata  pada  para  sahabatnya,  “Apakah  ada  di  antara  kalian  yang  sudah  memberinya
makan?”.

         Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar
yang  sejak  tadi  menunggu  perintah  Rasulullah  untuk  membunuh  orang  ini  seakan  tidak
percaya  dengan  apa  yang  didengarnya  dari  Rasulullah.  Maka  Umar  memberanikan  diri
bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin
membunuh  bukan  ingin  masuk  Islam!”  Namun  Rasulullah  tidak  menghiraukan  sanggahan
Umar.  Beliau  berkata,  “Tolong  ambilkan  segelas  susu  dari  rumahku,  dan  buka  tali
pengikat orang itu”.

         Walaupun  merasa  heran,  Umar  mematuhi  perintah  Rasulullah.  Setelah  memberi
minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-
Llah  (Tiada  ilah  selain  Allah).”  Si  musyrik  itu  menjawab          engan  ketus,  “Aku  tidak  akan
mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain
Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras,
“Aku tidak akan mengucapkannya!”

         Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang
yang  tak  tahu  untung  itu.  Tetapi  Rasulullah  malah  membebaskan  dan  menyuruhnya  pergi.
Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum
berapa  jauh  dari  masjid,  dia  kembali  kepada  Rasulullah  dengan  wajah  ramah  berseri.  Ia
berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”
       Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika 
aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika 
masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku  masuk Islam karena 
takut  kepadamu.  Namun  setelah  engkau  bebaskan,  aku  masuk  Islam  semata-mata  karena 
mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.” 

          Pada  suatu  kesempatan,  Tsumamah  bin  Itsal  berkata,  “Ketika  aku  memasuki  kota 
Madinah, tiada  yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota 
itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.” 

Sahabat……….. 

Apakah kita pengikut ajaran beliau? 
Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita 
mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah 
kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau… 

Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau 
adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, 
pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang 
sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan 
yang sempurna. 
 

Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan 
kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna. 
Salam ’alaika ya Rasulullah……… 

Semoga Bermanfaat…. 

Tidak ada komentar: