Selasa, 17 April 2012

Memohon Nafkah

Fadlan datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak
cara telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari.

           Kata  orang,  rezeki  itu  bisa  datang  sendiri,  apalagi  kalau  sudah  menikah.  Buktinya,
sudah 3 tahun ia menikah dan dikarunia dua orang anak, ia masih tetap hidup luntang-lantung
tak menentu.

           Benar,  keluarganya  tidak  pernah  kelaparan  sebab  tidak  ada  makanan.  Namun  kalau
terus-terusan hidup kepepet dan tidak punya pekerjaan, rasanya tidak ada kebanggaan diri.

           Ia pun datang kepada Kyai Ahmad untuk minta sumbang saran. Kalau boleh sekaligus
minta do’a dan pekerjaan darinya. Terus terang, ia sendiri kagum dengan sosok Kyai Ahmad
yang amat bersahaja. Tidak banyak yang ia kerjakan, namun dengan anak 9 orang, sepertinya
mustahil bila ia tidak pusing memikirkan nafkah keluarga. Tapi nyatanya, sampai sekarang
Kyai  Ahmad  tetap  sumringah  di  mata  Fadlan.  Tidak  pernah  ia  lihat  Kyai  Ahmad  bermuka
muram seperti dirinya. Makanya hari itu, Fadlan datang untuk meminta nasehat kyai tersebut.

           “Hidup  ini  adalah  adegan.  Kita  hanya  wayang,  sementara  dalangnya  adalah  Gusti
Allah!  Jadi,  manusia  itu  hidup  karena  disuruh  ‘manggung’  oleh  Dalangnya !”  Kyai  Ahmad
membuka penjelasan dengan sebuah ilustrasi ringan.

           “Gak  mungkin…  kalau  wayang  itu  manggung  sendiri.  Pasti,  ia  dimainkan  oleh
Dalang. Sementara selama di panggung, pasti Dalang akan memperhatikan nasib wayang itu!
Begitu   juga   manusia…   gak   mungkin   dia   hidup   di   dunia,   tanpa   diperhatikan   segala
kebutuhannya  oleh  Gusti  Allah!  Sudah  paham  belum  kamu,  Fadhlan?!”  Kyai  Ahmad
mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.

           “Tapi  pak  kyai…,  kalau  Gusti  Allah  benar  menjamin  hidup  hamba-Nya…  kenapa
hidup saya seperti sia-sia begini ya… nyari nafkah saja kok susah!” Fadlan menyampaikan
keluhnya.

           “Oh… itu karena kamu belum datang kepada Gusti Allah. Kalau kamu datang kepada
Gusti Allah, hidupmu gak bakal sia-sia!” Kyai Ahmad menambahkan.

           Fadhlan  belum  mengerti  betul  apa  maksud  sebenarnya  dari  kata  ‘datang  kepada
Allah’, ia pun menanyakan gambaran kongkrit tentang hal itu kepada Kyai Ahmad.

           Dengan  santai  Kyai  Ahmad  menjelaskan,  “Fadlan…,  semua  masalah  di  dunia  ini
bakal  selesai  asal  kita  datang  kepada  Allah.  Banyak  di  dunia  ini  orang  yang  bermasalah,
punya   hutang   segunung,   rezeki   sulit,   ditimpa   berbagai   macam   penyakit,   kemiskinan,
kelaparan  dan  lain-lain…  Itu  disebabkan  karena  mereka  tidak  datang  kepada  Allah.  Kalau
saja mereka datang kepada Allah, maka segala masalah mereka terselesaikan!”

           “Apakah hanya sesederhana itu, pak Kyai?” Fadlan bertanya dengan nada penasaran.
“Ya, hanya sesederhana itu!” Pak kyai menegaskan. Pak  Kyai  bercerita,  “Pernah  terjadi  di  Rusia  di  sebuah  negeri  yang  terkenal  atheis,
seorang pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk. Kepalanya
mulai   mengangguk-angguk   karena   kantuk.   Tukang   cukur   merasa   kesal,   namun   untuk
membangunkan pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara:

‘Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?’

Pelanggan menjawab, ‘Ya, saya percaya adanya Tuhan!’

Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali,

‘Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!’

‘Apa alasanmu?’ pelanggan melempar tanya.

         ‘Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang,  menurut  saya  tidak  mungkin  di  dunia  ada  orang  yang  punya  banyak  masalah,
terlilit  hutang,  terserang  penyakit,  kelaparan,  kemiskinan  dan  lain-lain.  Ini  khan  bukti
sederhana  bahwa  di  dunia  ini  tidak  ada  Tuhan!’  tukang  cukur  berbicara  dengan  cukup
lantang.

         Si pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang,
sampai  cukuran  selesai  pun  ia  tetap  tidak  menemukan  jawaban.  Maka  pembicaraan  pun
terhenti.   Sementara   si   tukang   cukur   tersenyum   sinis,   seolah   ia   telah   memenangkan
perdebatan.

         Akhirnya,  saat  cukuran  itu  selesai,  si  pelanggan  bangkit  dari  kursi  dan  ia  berikan
ongkos  yang  cukup  atas  jasa  cukuran.  Tak  lupa,  ia  berterima  kasih  dan  pamit  untuk
meninggalkan  tempat.  Namun  dalam  langkahnya,  ia  masih  tetap  mencari  jawaban  atas
perdebatan kecil yang baru ia jalani.

         Saat  berdiri  di  depan  pintu  barber  shop,  ia  tarik  tungkai  pintu  kemudian  hendak
melangkahkan kakinya keluar…. saat itu Allah Swt mengirimkan jawaban padanya.

         Matanya  tertumbuk  pada  seorang  pria  gila  yang  berparas  awut-awutan.  Rambut
panjang tak terurus, janggut lebat berantakan.

         Demi melihat hal sedemikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup
kembali. Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak
ada  di  dunia  ini  adalah  TUKANG  CUKUR!’  Merasa  aneh  dengan  pernyataan  itu,  tukang
cukur  balik  bertanya,  ‘Bagaimana  bisa  Anda  berkata  demikian.  Padahal  baru  saja  rambut
Anda saya pangkas!’

         ‘Begini pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang
tak  terurus,  janggutnya  pun  lebat  berantakan.  Kalau  benar  di  dunia  ini  ada  tukang  cukur,
rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan
penjelasannya.

         Tukang cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak… bukan
Tukang Cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang Anda  ceritakan  tidak  mau  hadir  dan  datang  ke  sini,  ke  tempat  saya…  Andai  dia  datang,  maka 
rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!’ 

         Tiba-tiba   si   pelanggan   meledakkan   suara,   ‘Naaaahhhh….   itu   dia   jawabannya. 
Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!’ ‘Apa 
maksudmu?’ si tukang cukur tidak mengerti dengan pernyataan pelanggannya. 

         ‘Anda khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia  yang punya masalah. Kalau 
saja mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis sama 
kejadiannya bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!’” 

         Kyai Ahmad mengakhiri kisah yang ia sampaikan. Terlihat Fadlan menganggukkan 
kepala tanda mengerti. 
“Jadi…, kamu hanya tinggal memohon saja apa yang kamu inginkan kepada Allah Swt., pasti 
Allah bakal berikan apa yang kamu pinta!” Kyai Ahmad berkata memberi garansi. 

         Fadlan sudah mulai yakin, tapi ia masih mengejar dengan satu pertanyaan, “Pak Kyai, 
saya sudah niat untuk datang dan semakin mengakrabkan diri kepada Allah. Tapi bagaimana 
caranya ya pak Kyai agar saya bisa memohon nafkah yang cukup kepada Allah?” 

Kemudian Pak Kyai membacakan ayat dalam Al Qur’an: 

“Katakanlah:  “Wahai  Tuhan  yang  mempunyai  kerajaan,  Engkau  berikan  kerajaan 
kepada  orang  yang  Engkau  kehendaki  dan  Engkau  cabut  kerajaan  dari  orang  yang 
Engkau  kehendaki.  Engkau  muliakan  orang  yang  Engkau  kehendaki  dan  Engkau 
hinakan   orang   yang   Engkau   kehendaki.   di   tangan   Engkaulah   segala   kebajikan. 
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke 
dalam  siang  dan  Engkau  masukkan  siang  ke  dalam  malam.  Engkau  keluarkan  yang 
hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau 
beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. QS. Ali Imran : 26-27 

“Bacalah ayat itu sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki  yang 
halal dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu 
dan keluarga!” Kyai Ahmad mengakhiri pembicaraan dengan memberi pesan. 

Usai pembicaraan dengan Kyai Ahmad, Fadlan merasa yakin bila dirinya hendak mencari 
nafkah, maka cara termudah yang dapat ia kerjakan hanyalah dengan ‘Datang dan Memohon 
kepada Pemilik Nafkah!’ 
Fadlan telah meyakini hal ini. 

Bagaimana dengan Anda? 

Tidak ada komentar: